Tuesday, April 24, 2012

AKATSUKI


Dugaan pertama yang mungkin muncul setelah melihat cover novel ini antara lain:

  •     Manga dan anime Naruto.
  •     Tim Akatsuki yang bertujuan mengumpulkan bijuu dengan anggotanya Pein, Konan, Hoshigaki Kisame, Uchiha Itachi, Hidan, Deidara, Sasori, dan kawan-kawannya yang memakai jubah hitam bergambar awan merah.
  •     Novel berbahasa Jepang yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
  •     Penulisnya orang Jepang.

Dari beberapa kemungkinan di atas, adakah yang kalian alami? Sebelum kalian menduga-duga terlalu jauh, ini dia kebenarannya.

Novel Akatsuki ditulis oleh orang Indonesia. Cuma, setting-nya memang mengambil negara Jepang. Miyazaki Ichigo adalah nama pena penulisnya yang memiliki nama asli Muliyatun N.

Berikut ini sinopsis ceritanya:

Ada tiga pria yang mencintai Mayumi. Shun yang tak terduga, Henry yang selalu membawa kebahagiaan, dan Satoshi sang penolong misterius.

            Semuanya berawal ketika Mayumi diadopsi oleh keluarga Nakano dan tumbuh menjadi gadis cantik yang lincah dan cerdas. Lalu kebahagiaan Mayumi terempas saat seseorang yang dicintainya malah berusaha menodai. Sekalipun masih ada yang melindunginya, Mayumi memilih meninggalkan kediaman keluarga Nakano. Mayumi sangat yakin, ketabahan hatinya akan menuntun kembali pada kebahagiaan. Dia yakin meski kerikil kehidupan selalu menghadang, luka dan perih dapat dibalutnya dengan doa. Hingga akhirnya waktu mempertemukan Mayumi dengan seorang mualaf pendiam yang cerdas.

            Shun, Henry, dan Satoshi. Siapakah di antara mereka yang menjadi belahan hati Mayumi? Bagaimana pula Mayumi mengelak dari upaya balas dendam yang selalu mengejarnya?


Begitulah bunyi sinopsis novel ini yang tertera di sampul belakangnya. Terus terang, bukan penulis novel Akatsuki yang membuat sinopsis tersebut. Dan terus terang pula, penulisnya sendiri merasa kurang “sreg” dengan sinopsis novelnya karena sinopsis itu terasa seperti “sinetron banget”, sementara si penulis tidak suka sinetron. Tapi, karena penulis sendiri mungkin tidak bisa membuat sinopsis yang lebih baik dari itu, penulis pun menerimanya saja.

Secara umum, ada dua tanggapan pembaca mengenai sinopsis tersebut. Pertama, pembaca yang tidak tertarik, bahkan mendapat bad impression ketika membaca sinopsis tersebut, namun akhirnya menyukai novel Akatsuki setelah membaca novelnya secara keseluruhan. Kedua, pembaca yang langsung tertarik dengan novel Akatsuki gara-gara membaca sinopsisnya. Ini terutama terjadi pada para penggemar romance.

Akatsuki sendiri berarti fajar. Jadi, novel ini berkisah seputar saat-saat fajar dan tentang fajar. Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang remaja putri bernama Mayumi yang duduk di bangku SMA. Novel ini mengisahkan kehidupan sehari-hari Mayumi di lingkungan keluarga dan sekolahnya.

Di rumah, Mayumi tinggal bersama ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki. Sekilas tampak seperti keluarga biasa pada umumnya. Namun, riwayat hidup Mayumi sebenarnya sangat kompleks, tidak sesederhana yang terlihat. Hal itu juga yang akhirnya memicu konflik besar dalam hidupnya.

Di sekolah, Mayumi memiliki teman-teman seperti Kozue yang tomboi, Rin yang feminin dan lembut, serta Chieko yang keibuan. Ada juga Kira sang ketua kelas, Takuya yang humoris, Richi yang usil, Chiba yang pendiam, dan tentunya Kagawa Satoshi, laki-laki sedingin es yang misterus.

Sebagaimana remaja pada umumnya, Mayumi selalu ingin tahu. Satoshi yang penuh misteri dan selalu bersikap dingin pun menarik perhatiannya. Karena Satoshi sering meninggalkan jam makan siang dan tidak mau bersentuhan dengan perempuan, Mayumi jadi penasaran. Usut punya usut, ternyata ….

Waktu pun terus bergulir. Peristiwa demi peristiwa terjadi silih berganti dan jalin menjalin menjadi konflik hingga mencapai penyelesaiannya.

Actually, it’s a love story. Tapi, ceritanya tidak melulu tentang cinta. Mayumi juga berusaha mencari kebenaran Islam untuk mengisi kekosongan hatinya. Ya, karena hidayah adalah sesuatu yang perlu diusahakan.

Nah, lho? Gitu aja? Jadi, bagaimana kisah Mayumi selengkapnya? Bagaimana nasib Mayumi selanjutnya? Bagaimana riwayat keluarga Mayumi yang sebenarnya? Lalu, seperti apakah Kagawa Satoshi, siswa laki-laki misterius di sekolah Mayumi? Siapa sesungguhnya dia? Dan, apa hubungannya dengan fajar? Kenapa judulnya Akatsuki?

Hehe … penasaran, kan? Pengen tahu, kan? Untuk cerita selengkapnya, silakan membaca bukunya sendiri

Novel ini tentunya memiliki banyak kekurangan. Seperti tata bahasa yang masih harus terus diperbaiki, penguasaan materi yang perlu ditingkatkan, alur cerita yang mudah ditebak, dan karena penulisnya orang Indonesia, barangkali ceritanya masih terasa di Indonesia walaupun setting-nya di Jepang.

Meskipun demikian, insya Allah ada manfaat yang bisa didapat dengan membaca novel ini. Pertama, jelas memberi hiburan. Novel ini juga menyedikan beberapa informasi tentang Jepang. Lalu, bagi yang baru belajar bahasa Jepang dan ingin belajar bahasa Jepang, di novel ini disisipkan beberapa kata dalam bahasa Jepang. Tentu saja hanya kata-kata yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan termasuk mudah. Bagi yang sudah bisa berbahasa Jepang, sih, kayaknya belum ada apa-apanya. Di novel ini juga dicantumkan lirik-lirik OST anime yang cukup banyak untuk memperkuat latar suasana cerita. Dan tentunya, novel ini tergolong unik karena memadukan antara kebudayaan Jepang dengan nilai-nilai Islam yang indah.

Novel ini bisa didapatkan di toko-toko buku.

Wednesday, April 18, 2012

Penantian Ibu

Cemas
Dak...dik...duk
Jantung berdebar keras

Takut
Resah
Gelisah

                       "Kemana sich, sudah jam segini!"
                        Gumam berkali-kali
                        Tetap Menanti
                        Berharap cepat kembali

Yang ditunggu T'lah tiba
Pelukan
Sedikit kesal
Namun terasa lega
"Dari masa saja???"
                     
                        Hanya teguran
                        Bukan main tangan
                        karena Cinta dan kasihnya
                        Tulus
                        Selalu ada
                        Tak pernah marah...




                     

Tuesday, January 3, 2012

Airmata Hikmah


    Baru saja ku tinggalkan jejakku dikota yang penuh canda dan airmata hikmah. Begitu banyak pelajaran yang bisa kupetik walau hanya dalam singkatnya waktu (2 hari) dalam acara “Training Powerful Personality” tgl 31 dec’11 – 01 Jan’12 di kota Batu, Malang. 

   Keindahan panorama membuat mataku tak berkedip. udara dingin, bukit, hutan pinus menunjukkan Ke-Esaan dan Keagungan sag Maha Pencipta. Ingin rasanya aku menghabiskan waktu tuk berlama-lama tinggal, dan sedikit menghilangkan penat dan kejenuhan.

Bahagia, duka dan penyesalan mengalir bersama airmata yang tak bisa kubendung. 

    Airmata bahagiaku jatuh seiring kebersamaan  dalam canda dan tawa silaturahmi yang terjalin antara kami. Nyanyian, gurauan, permainan yang mengundang senyum lebar  dan kemesraan persahabatan membuatku mengangkat kedua tanganku dan berdo’a  “Semoga akan selalu terjalin persahabatan dan ukhuwah diantara kita” (amien).

     Airmata dukaku jatuh ketika seseorag diantara kami terlihat tegar dan bahagia seolah tak sedikitpun sedih dirasakanya, namun dibalik itu semua hanyalah topeng berwajah senyum yang menahan perih dan pedihnya sakit kanker yang diderita.  Rasa syukur tak lepas dari setiap detik dan menit atas nikmat yang diberikan sang Khalik. Sebuah pelajaran berarti bagiku ketika aku dapat berdiri tegak, meloncat dan berlari  dengan penuh semangat dalam fisik yang kokoh, namun aku menyadari kurangnya syukurku dalam setiap nafas yang kuhembuskan. Akupun kembali mengangkat kedua tangan dan kuselipkan do’a untuknya  “Semoga Allah selalu memberikan rasa ikhlas dan sabar padanya dan kami, dan memberikan kesembuhan atas segala penyakit yang dideritanya” (amien).

     Terakhir adalah airmata penyesalan yang berlinang bersama do’aku kepada sang pencipta, bahwasanya aku menyesal atas lamanya aku menghilang dalam menempatkan diri diantara orang-orang yang selalu dekat dengan-Nya. Penyesalan akan hilangnya do’a dan tindakanku kepada mereka yang peduli dan berada di dekatku. Penyesalan atas kesadaran yang baru aku peroleh akan kesombongan, ketidakpedulian serta keegoisan. Dengan sadar kubersimpuh dihadapnya, kupanjatkan do’a “Ya Robb.. semoga selalu ada iman dan taqwa pada diri hamba, dekatkanlah hamba pada orang-orang yang Engkau sayang, serta jauhkan hamba dari hal dan orang-orang yang Engkau murkai” (amien).    

      Inilah sedikit ukiran kata yang bisa kuketik saat acara training, semoga senantiasa membawa kemanfaatan bagi semua peserta yang mengikutinya, sehingga bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Amien...


by : Sri hartatik
03 jan 2012