Wednesday, November 16, 2011

DILEMA....


Malam sedingin ini aku masih duduk di kursi kayu tua depan rumah. ku tatap alang-alang menghampar luas yang tumbuh hijau diatas genangan sawah tak berpadi. Ini adalah malam kedua aku termenung. Banyak kegelisahan dan ketakutan yang membayangiku dalam seminggu ini.

“kamu gak tidur? Lagi mikirin apa?” Tanya wati temanku,
“belum… tidurlah dulu sudah malam, nanti anakmu mencari”, jawabku lirih sedikit malas.
Tak tersadar olehnya apa yang kupikirkan sepekan terakhir ini adalah dia. Ya.. dia “Wati”.

Wati adalah teman semasa aku masih duduk di bangku sekolah kejuruan Negeri (SMKN), kita satu angkatan, namun tak sejurusan. Awal kedekatan kami dari ekstra beladiri disekolah. Kami begitu dekat dan terbuka satu sama lain. Singkatnya, wati memutuskan untuk menikah setamat sekolah, suami wati tak lain adalah pelatih beladiri kami. Alhamdulillah kini Allah telah  memberi mereke seorang putra.

Masih teringat olehku seminggu yang lalu ketika wati merengek, menangis meminta untuk tinggal dirumah kecilku dengan buah hatinya. Akupun bisa apa, hanya terucap k`ta “IYA” begitu saja. satu alasan yang tak begitu tepat menurutku untuk wati meninggalkan rumah hanya karena adu mulut dengan suaminya. Inilah awal dilema yang melandaku kini.

 “AKU INGIN CERAI”, kalimat yang selalu terucap dari mulut wati diiringi ratapan tangis setiap ia cerita tentang suaminya yang menurutnya tak cinta lagi denganya.
“Ia sering main tangan” tambahnya.
Akankah nantinya hal semacam ini terjadi padaku?

Dulu, sejak usiaku diawal 20th aku selalu berimajinasi tinggi. terbayangkan indah dan ramainya pesta pernikahan yang kelak ku bangun bagai putri yang menduduki kursi singgasana megah bersama pangeran yang AlLah kirimkan kelak. Namun, semua impian indah itu hilang, bahkan ingin kumusnahkan. Akupun tak tahu kenapa, sempat takut kadang gelisah. Orang bilang wanita seumuranku sudah waktunya membina rumah tangga, ini juga sejalan dengan wujud impianku tuk jadi putri semalam yang selalu kubayangkan. Tapi, hal ini sangat kontra ketika banyak realita yang mengancam biduk rumah tangga yang dibangun berlandaskan cinta diawalnya.

ADU MULUT/ARGUMENTASI, CARA PIKIR YANG TAK SEJALAN,  mungkin selalu ada setiap mereka yang berkeluarga, namun jika tak satupun mengalah KEKERASAN berjalan. Bukankan jelas dalam Al-Quran tertulis jika cinta itu pupus, masih ada amanah yang harus terpelihara selama setiap pasangan beragama:

“Pergaulilah istri-istrimu dengan baik dan apabila kamu
    tidak lagi menyukai (mencintai) mereka (jangan putuskan
    tali perkawinan), karena boleh jadi kamu tidak
    menyenangi sesuatu tetapi Allah menjadikan padanya (di
    balik itu) kebaikan yang banyak” (QS Al-Nisa' [4]: l9).

Akankah semua akhwat muda sama denganku terlintas takut dan gelisah tuk melangkah kesana??? Mungkin .. mungkin iya.

Astaghfirullah… semoga ini salah satu asumsiku yang salah, aku sadar Perkawinan menurut Hukum Islam adalah perikatan, yaitu akad yang sangat kuat atau miitsaaqan gholidan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya adalah ibadah.

 Semoga dilema ini tidak berkepanjangan untukku dan untuk akhwat yang lain. Hal ini tak patut kupikirkan lagi, aku pantas menjadi putrid semalam di singgasana Impian. akupun beranjak dari duduk ku dan berdiri dengan senyum semangat tegasku berkata “Bismillah, semoga tak terjadi padaka Ya Robbi”. ku ayunkan langkah persiapan mimpi indah malam ini.


BY :
SRI HARTATIK
16/11/11

Monday, October 24, 2011

ALLAH ALWAYS SAVE ME


Assholatu khoiru mina naum….
Assholatu khoiru mina naum….


Alhamdulillah, pagi ini aku merasa lebih bersemangat dari hari-hari nkemarin. Alhamdulillah Allah lagi-lagi memberiku kesempatan tuk kesekian kalinya buaku dapat kembali melihat indahnya alam semseta. Tanpa berfikir panjang lagi aku bangun dan beranjak dari tidurku dan kubasuh tubuh serta seluruh anggota tubuhku untuk melaksankan sholat subuh.

Waktu sudah menujukkan pkl. 06.30, biasanya aku baru mulai bersih diri dan bersiap untuk memulai aktivitas rutin alias berangkat kerja.

Greng…
Greng….
Suara khas dari mesin motorku sudah ready untuk menemaniku dalam perjalanan ke kantor.
Bismillahi tawakkaltu ‘ala Allah la haula wa la quwata illa billah…
Dengan rasa percaya diri dan senyum lebar aku berangkat menuju kantor.
Aku tak berfikir apapun tentang apa yang terjadi nanti pada diriku, yang pasti aku yakin Allah always save me.

*********************************************************************************
5…. 4…. 3…. 2…1….
Lampu merah pertama sudah kulewati tetap dengan penuh senyum dan semangat ’45, sambil  kunyanyikan lagu “For the rest Of My life” by MZ.

5…4….3…2..1….
Tanpa aba-aba lagi lampu hijau pun menyala. Kami  para pengendara mulai tancap gas kembali. Aku lihat kanan, kiri, dan dari depan kebelakang. Semua motor melaju dengan kencangnya. Akupun juga, tapi aku tak secepat mereka. Tiba-tiba aku mndengar suara mesin motor dari belakangku di iringi suara knalpot yang besar mengerikan.

Astaghfiruallah….
Ku lihat ke spion d`n spontan hatiku berkata “Sepertinya aku akan tertabrak…”
Tak butuh waktu lama aku jadi korban, belum 1 detik hatiku berkata demikian.  Seolah hanya dalam sekejap mata motor yang bersuara knalpot mengerikan itu menghantamku.

*/&!~$#^*&(#&(*^*$%#Q$~@$@#%!~!
AKU DAN IA PUN TERJATUH

Innalillahi..
Aku tertabrak beneran…
Dengan cepat aku meluncur dengan motorku sejauh 7M. aku merasakan kulitku terasa terparut dengan aspal jalan. Dan seketika itu pula aku terpental punggungkupun terbanting ke trotoar pinggir jalan.

“aduh Ya Allah..”

“Astaghfiruallah….”
Itulah yang ku ucapkan pertama kali…
Mataku berkunang-kunang, yang aku dengar hanya suara-suara “Mbk.. ,mbk.. gmn?”
Akupun ingin menjawabnya  “Ya.. aku tidak apa-apa”, namun mataku tiba-tiba terpejam, kepalaku sakit.

*********************************************************************************
Mataku terbuka, aku lihat jam dinding pkl.10.30. aku tersadar. Aku marasa asing.. karena disekelilingku Nampak banyak orang-orang berbaju putih. Dalam hati akupun bertanya “Apa aku baik-baik saja ya Allah?”.  Aku berkeringat dingin, saat salah satu orang berbaju putih diantara mereka menghampiriku. Lalu iapun menyapa “Gmn mbk?  Sudah baikan ya?.. mbk sekrang ada di RS. Hajj keluarga ada diluar kok”. Akupun bertanya padanya “Gmn keadaan saya sust?”. Ia kembali menjawab “Jangan banyak gerak, jempol kakinya ada jahitan, tulang punggung mbk, bergser ke kanan”. Spontan aku merespon “Alhamdulillah masih bergeser, gak patah”. Suster hanya melempar senyum padaku.


Inilah yang terjadi padaku pada hari Jum’at 21 Oct’11 kemarin. Tak henti-hentinya aku bersyukur

Terimakasih Ya Allah
Aku yakin Engkau selalu bersamaku
Aku tahu Engkau tak akan memberiku cobaan melebihi batas kemampuanku
Engkau lah sang Maha Robbi..
Engkau lah pemberi hidup dan Mati…
AKu sadar Ya Robb..
Ini bukan kali Pertama aku masuk UGD RS. Hajj
Namun sudah sekian kalinya..
Sekian kali pula Engkau beriku kesempatan untuk kembali bernafas..
Menghirup segarnya udara Esok hari..
Thanks Allah
SWT


By Sri Hartatik
24 Oct’1


Monday, October 10, 2011

KASIH TAK SAMPAI

Polemik Pernikahan Beda Agama

“Gimana yah En, dia tuh udah mau pindah agama, malahan sudah belajar shalat dan menjalankan ajaran Islam lainnya. Kan awal yang bagus tuh,” tutur Eni. Wit terkesima, sejak kedatangan Eni tadi nampaknya Eni sudah kadung cinta berat sama Yosef yang akrab dipanggil Eni dengan Yusuf. Cowok atletis bertampang bule itu memang tidak mengecewakan secara fisik. Perhatian dan pengertiannya pada Eni juga tak mengecewakan.

“Emang udah kenal berapa lama?” tanya Wit akhirnya.
“Jalan satu setengah tahun.”
“Kamu sudah kenal keluarganya? Sifat-sifatnya? Sikapnya?”
“Keluarganya sih belum. Sifat dan sikapnya Insya Allah sudah. En ingin bantu dia menjauh dari kesesatan, ingin mengarahkan ia ke jalan yang lurus, dirihoi Allah. Salahkah aku?” isak Eni.

**

Menjadi agen peubah, itulah bagian terkecil dari sifat sebagian wanita. Wanita terkadang ingin orang-orang yang dikasihi, dicintainya berproses sesuai harapannya. Seperti kasus Eni misalnya, ia ingin Yusuf mualaf agar proses pernikahan dan kehidupan mereka kelak mendapat ridho Allah. Tujuan yang mulia memang. Namun terkadang tujuan mulia itu terhalang oleh rasa cinta dan kasih yang sudah lebih dulu bersemayam di hati hingga mengaburkan mata hati dan pikiran lainnya. Yang ada kemudian adalah timbulnya rasa ingin menolong, membantu, merasa bahwa dirinya (dalam hal ini Eni) sudah sanggup menjadi agen peubah bagi Yusuf. Kalau saja Eni mau bersahabat dengan hati dan pikirannya lebih dalam lagi, akan timbullah pertanyaan, “Sudah siapkah aku menjadi agen peubah? Sudah cukupkah bekalku membimbing dia yang mualaf? Apa yang aku harapkan dari dia sebenarnya? Akukah yang butuh bimbingan atau dia? dan beragam pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mesti dijawab dengan kesungguhan hati, kebijakan dan kesabaran dalam berproses.

Kalau ingin memilih, salah satu proses yang meski kita hadapi dalam memilih calon pendamping hidup, pilihlah perang batin sebelum memutuskan menerima daripada perang batin setelah menerima dia jadi calon. Mengalami perang batin sebelumnya membuat kita lebih siap dalam bersikap hingga mampu menerima apapun resiko yang kita hadapi dikemudian hari atas keputusan yang kita ambil sendiri. Perang batin juga harus diimbangi dengan upaya lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, memohon petunjuk-Nya, bersikap obyektif dalam membaca rambu-rambu yang diberikan-Nya. Rambu-rambu Allah itu bisa tersalurkan melalui pendapat-pendapat sahabat kita atau orang-orang terpercaya, bisa lewat sikap dan sifatnya baik yang tersirat maupun tersurat saat berproses, dan lain-lain.

Menikah dengan muallaf sebenarnya sah-sah saja. Namun kita mesti ingat bahwa seorang suami adalah pemimpin dalam rumah tangga kita. Alangkah baiknya memilih suami yang lebih soleh daripada kita atau setidaknya yang kualitas kesadaran dan pengamalan agamanya setara dengan kita.

Kepemimpinan suami kepada istri dan anak-anaknya bermakna memberikan perlindungan, memberi petunjuk ke jalan yang lurus dan memberikan pengarahan untuk selalu istiqomah di jalan keridhoan Allah.

Sebenarnya tujuan Eni berdakwah pada Yusuf itu bagus, namun bukan berarti harus menikah dengannya. Sementara keluarga yang diinginkan Eni adalah keluarga yang SAMARA (Sakinah, Mawaddah, Warahmah). Keluarga sakinah itu hanyalah terjadi jika seluruh anggotanya memiliki kepribadian yang Islami sehingga masing-masing mereka dapat merasakan kenyamanan, ketenangan, ketentraman dan kecintaan. Suasana tersebut akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarga karena rumah tangga tersebut didirikan oleh suami istri yang sholeh dan sholehah yang sama-sama ingin mewujudkan pengamalan nilai-nilai Islam.

Memilih pasangan hendaknya tak sekedar mengandalkan rasa cinta dan empati belaka, tetapi atas dasar kebaikan agama dan akhlaknya. Dengan kesholehan suami ia dapat melaksanakan perannya yang lebih besar dalam mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin bagi seluruh anggota keluarga, ia juga dapat berperan dalam menjaga keistiqomahan, ibadah dan akhlak istri dan anak-anaknya sebagaimana ia dapat memenuhi kebutuhan lahiriah.

Dalam syari’ah Islam, menikah dengan pria yang berbeda agamanya adalah haram. Sedangkan dalam undang-undang perkawinan, hukumnya tidak sah. Namun dalam pengertiannya tetaplah sama antara syari’ah Islam dan UU perkawinan di masyarakat. Hal ini sesuai dengan UU Perkawinan No. 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama. Artinya, bila agama (Islam) menyatakan perkawinan itu sah, maka dalam hukum Indonesia begitu juga.

Petugas KUA akan menolak pencatatan perkawinan dimana mempelainya berbeda agama. Begitu juga dengan wali ataupun saksinya (kalau mereka konsisten dengan ajaran Islam). Sehingga, apabila pernikahan tersebut tetap dilaksanakan, tidak berkekuatan hukum dan tidak mendapatkan surat nikah selamanya.

Nah bagaimana dengan pasangan-pasangan nekat seperti para artis yang menghalalkan hal itu? Mengapa mereka bisa lolos dalam berproses?

Penyelundupan hukum pun terjadi yaitu dengan cara menikah dihadapan KUA maupun Gereja, atau menikah dihadapan pegawai kantor catatan sipil dengan memanipulasi identitas, bahkan ada juga yang menikah di luar negeri yang menghalalkan pernikahan semacam ini. Yang namanya “menyelundup” tentu akan membawa dampak yang tidak baik, karena tidak ada kepastian hukum, status hukum istri dan anak.

Sungguh disayangkan hal demikian bisa terjadi, mungkin status hukum bisa diusahakan dan dibeli, lantas bagaimana dengan status agama? Bagaimana kita dimata Allah? Wallahualam bishawab.

(Qudwah, dari berbagai sumber)

Thursday, October 6, 2011

me N my Friend




BREAK

Menangis...
terpuruk....
sedih...
Gunda...


ketika kau ucap "Selamat tinggal"
remuk...
hancur..
sesak....

kau sandarkan kapal 1 th lamanya..
kini kau angkat jangkar dan tinggalkan karang yang kauambil dilautan...

topik yang tak rasional & tak jelas, kau jadikan inti kepergianmu..

akupun tak bisa apa, hanya tangis yang tak dapat kubendung hingga kering..

Ya Robb...
hamba yakin, kelak engkau labuhkan kembali kapal yang menyimpan sejuta imajinasi..
yang akan kusebrangi lautan dan samudera bersama sang nahkoda tercinta..





by Sri Hartatik
06 Oct'11


Monday, June 13, 2011

KOMUNIKASI


KATA PENGANTAR

            Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
            Alhamdulillah, segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT karena dengan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan harapan dan waktu yang telah diberikan. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
            Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Irham Amin Sandani, M.Pd selaku dosen Pengantar Manajemen karena sudah memberikan kami kesempatan dan pengarahan untuk menyusun makalah ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang ikut membantu kami dalam mencari referensi dalam pembuatan materi makalah ini.
            Kami berharap makalah ini dapat membantu dalam proses pembelajaran pada semester berikutnya dan semoga bermanfaat bagi semua yang membacanya. Kami harapkan pula agar para pembaca memperhatikan celah yang mungkin kurang sempurna dalam makalah ini sehingga kami dapat menyusun kembali yang lebih baik pada makalah berikutnya.





Surabaya, Mei 2011



                                                                                                                         Muli & Sri








DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...................................................................................................    2
Daftar Isi ............................................................................................................     3
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................     4
            I.1 Latar Belakang .................................................................................      4
            I.2 Rumusan Masalah ............................................................................     
            I.3 Tujuan ...............................................................................................   
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................    
            II.1 Pengertian Komunikasi
            II.2 Hambatan Komunikasi
            II.3 Jenis Komunikasi
            II.4 Saluran Komunikasi
            II.5  Pengembangan Keterampilan Komunikasi
BAB III PENUTUP ...........................................................................................    
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................   


















BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

I.2 Rumusan Masalah

I.3 Tujuan


























BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Komunikasi
            Komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin communis yang berarti sama (common), communico, communicatio, atau communicare yang berarti membuat sama (make to common). Secara sederhana, komunikasi dapat terjadi apabila ada kesamaan antara penyampai pesan dan orang yang menerima pesan.
            Komunikasi adalah kegiatan perilaku atau kegiatan penyampaian pesan atau informasi tentang pikiran atau perasaan (Roben J.G.). Komunikasi adalah pemindahan informasi dan pengertian dari satu orang ke orang lain (Davis, 1981). Komunikasi adalah berusaha untuk mengadakan persamaan dengan orang lain (SchramW.).
            Komunikasi dapat didefinisikan sebagai penyampaian informasi dan pengertian dengan menggunakan tanda-tanda yang sama (Gibson, et.al., 1997:436).
            Ruslan (2002:81) menyatakan bahwa secara garis besar, dalam proses komunikasi harus terdapat unsur-unsur kesamaan makna agar terjadi suatu pertukaran pikiran atau pengertian antara komunikator (penyebar pesan) dan komunikan (penerima pesan).
            Proses komunikasi dapat diartikan sebagai “transfer informasi” atau pesan-pesan (messages) dari pengirim pesan kepada penerima pesan. Proses komunikasi bertujuan untuk mencapai saling pengertian (mutual understanding) antara kedua belah pihak.
            Ruslan (2003:89) mengemukakan pengertian komunikasi menurut Theodorson & Theodorson (1969), bahwa komunikasi adalah kegiatan transmisi informasi, ide-ide, sikap, atau pernyataan emosional dari satu orang atau kelompok kepada pihak lain melalui simbol-simbol tertentu.
            Selanjutnya, Ruslan (2003:89-90) mengutip pendapat C.E. Osgood (1957) bahwa komunikasi dilakukan di mana saja, merupakan satu sistem, ada sumber, mempengaruhi pihak lain, bertujuan untuk memanipulasi simbol-simbol alternatif, dan dapat ditransmisikan melalui suatu saluran untuk mengontak sasarannya.
            Ruslan (2003:90) juga menuliskan pendapat Gerbner (1967), bahwa komunikasi didefinisikan sebagai interaksi sosial melalui pesan-pesan.
            Kalau ditarik pengertian secara umum dari pendapat para pakar komunikasi tersebut, menurut McQuail & Windahl (1993:5), komunikasi berkaitan erat dengan unsur-unsur seperti pengirim pesan, media saluran, pesan-pesan, penerima, terjadi hubungan antara pengirim dan penerima yang menimbulkan efek tertentu, dan ada rangkaian penyampaian pesan-pesan (Ruslan, 2003:90-91).

II.2 Hambatan Komunikasi
1.     Hambatan dari Proses Komunikasi
·        Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi si pengirim pesan. Hal ini dipengaruhi perasaan atau situasi emosional.
·        Hambatan dalam penyandian/simbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang digunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang digunakan pengirim dan penerima tidak sama, atau bahasa yang digunakan terlalu sulit.
·        Hambatan media adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
·        Hambatan dalam bahasa sandi, terjadi dalam menafsirkan sandi oleh penerima.
·        Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima/mendengarkan pesan, sikap prasangka, tanggapan yang keliru, dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
·        Hambatan dalam memberikan tanggapan. Tanggapan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya, tetapi memberikan interpretasi, tidak tepat waktu, atau tidak jelas, dan sebagainya.
2.     Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, misalnya gangguan cuaca, gangguan alat komunikasi, gangguan kesehatan, dan lain lain.
3.     Hambatan Semantik
Kata-kata yang digunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti yang berbeda, tidak jelas, atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima.
4.     Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya perbedaan nilai-nilai serta harapan antara pengirim dan penerima pesan.


II.3 Jenis Komunikasi
            Jenis komunikasi terdiri dari:
1.     Komunikasi verbal dengan kata-kata. Komunikasi verbal mencakup aspek-aspek:
·        Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti. Karena itu, olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
·        Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif  dan sukses bila kecepatan bicara diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
·        Intonasi suara akan mempengaruhi arti pesan sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda.
·        Humor dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis, dan humor merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
·        Singkat dan jelas. Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
·        Timing (waktu yang tepat) perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
2.     Komunikasi nonverbal disebut dengan bahasa tubuh. Komunikasi nonverbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata. Yang termasuk komunikasi nonverbal:
·        Ekspresi wajah. Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi karena ekspresi wajah mencerminkan suasana emosi seseorang.
·        Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinteraksi, berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan, bukan sekadar mendengarkan. Kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya.
·        Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian, dukungan emosional, atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
·        Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri, dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
·        Sound (suara). Rintihan, menarik napas panjang, dan tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi.
·        Gerak isyarat dapat mempertegas pembicaraan, seperti mengetuk-ngetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara menunjukkan seseorang dalam keadaan stres, bingung, atau sebagai upaya untuk menghilangkan stres.

            Komunikasi sebagai proses memiliki bentuk:
1.     Bentuk komunikasi berdasarkan ada tidaknya alat:
·        Komunikasi langsung tanpa menggunakan alat. Komunikasi berbentuk kata-kata, gerakan-gerakan yang berarti khusus, dan penggunaan isyarat, misalnya berbicara langsung kepada seseorang di depannya.
·        Komunikasi tidak langsung. Biasanya menggunakan alat dan mekanisme untuk melipatgandakan jumlah penerima pesan (sasaran), atau untuk menghadapi hambatan geografis dan waktu, misalnya menggunakan radio, buku, dll.
2.     Bentuk komunikasi berdasarkan besarnya sasaran:
·        Komunikasi massa, yaitu komunikasi dengan sasaran kelompok orang dalam jumlah besar, umumnya tidak dikenal. Komunikasi massa yang baik harus:
Ø      Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit, dan tidak bertele-tele.
Ø      Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami.
Ø      Bentuk gambar yang baik.
Ø      Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio).
·        Komunikasi kelompok adalah komunikasi yang sasarannya sekelompok orang yang umumnya dapat dihitung dan dikenal, serta merupakan komunikasi langsung dan timbal balik.
·        Komunikasi perorangan adalah komunikasi dengan tatap muka, dapat juga melalui telepon.
3.     Bentuk komunikasi berdasarkan arah pesan:
·        Komunikasi satu arah. Pesan disampaikan oleh sumber kepada sasaran dan sasaran tidak dapat atau tidak mempunyai kesempatan untuk memberikan umpan balik atau bertanya, misalnya radio.
·        Komunikasi timbal balik. Pesan disampaikan kepada sasaran dan sasaran memberikan umpan balik. Biasanya komunikasi kelompok atau perorangan merupakan komunikasi timbal balik.
            Jenis komunikasi menurut Gibson, et.al. (1997:439-440) adalah:
1.      Komunikasi ke bawah (downward communication). Komunikasi ini mengalir dari orang pada jenjang yang lebih tinggi ke jenjang yang lebih rendah. Bentuk yang paling umum adalah instruksi, memo resmi, pernyataan tentang kebijaksanaan perusahaan, prosedur, pedoman kerja, dan pengumuman perusahaan.
2.      Komunikasi ke atas (upward communication). Organisasi yang efektif memerlukan komunikasi ke atas yang sama banyaknya dengan kebutuhan akan komunikasi ke bawah. Komunikator berada dalam jenjang yang lebih rendah dalam organisasi daripada penerima. Komunikasi ke atas yang biasa adalah kotak saran, pertemuan kelompok, prosedur naik banding, atau pengaduan.
3.      Komunikasi horizontal (horizontal communication). Komunikasi ini perlu bagi koordinasi dan integrasi dari beragam fungsi keorganisasian, misalnya antara produksi dan penjualan atau antara departemen dan fakultas dalam universitas.
4.      Komunikasi diagonal (diagonal communication). Walaupun merupakan jalur komunikasi yang paling sedikit digunakan, komunikasi diagonal penting dalam situasi di mana para anggota tidak dapat berkomunikasi secara efektif lewat jalur lain. Misalnya, seorang pengawas keuangan ingin menyusun analisis biaya distribusi. Sebagian mungkin melibatkan tenaga penjualan yang mengirim laporan khusus langsung kepada pengawas keuangan, dan tidak melewati jalur tradisional dalam departemen pemasaran.

II.4 Saluran Komunikasi
            Menurut Alo (2004:51), dalam proses komunikasi, saluran merupakan tempat yang dilalui oleh pesan/simbol yang dikirim. Pesan dapat dikirim secara tertulis melalui surat, telegram, faximile, juga media massa, baik cetak (majalah, surat kabar, buku, dan lain-lain) maupun elektronik (radio, televisi, video, film, dan lain-lain).
            Para ilmuwan psikologi-komunikasi menyepakati dua tipe saluran (Alo, 2004:52):
1.      Sensory channel atau saluran sensoris, yaitu saluran yang memindahkan pesan sehingga akan ditangkap lima indera, yaitu mata, telinga, tangan, hidung, dan lidah. Lima saluran sensoris itu adalah cahaya, bunyi, perabaan, pembauan, dan rasa.
2.      Institutionalized means atau saluran institusional yang biasa digunakan manusia, misalnya percakapan tatap muka, material cetakan, dan media elektronik. Setiap saluran institusional memerlukan dukungan satu atau lebih saluran sensoris untuk memperlancar pertukaran pesan dari pengirim kepada penerima.
            Cangara (2003:131-140) menggolongkan media atau saluran komunikasi menjadi:
1.      Media antarpribadi
Untuk hubungan perorangan, media yang digunakan adalah kurir, surat, dan telepon.
2.      Media kelompok
Dalam aktivitas komunikasi yang melibatkan lebih dari 15 orang, media yang digunakan adalah media kelompok, misalnya rapat, seminar, dan konferensi.
3.      Media publik
Digunakan jika peserta lebih dari 200 orang, misalnya rapat akbar.
4.      Media massa
Digunakan jika peserta tersebar tanpa diketahui di mana mereka berada. Media massa adalah alat untuk menyampaikan pesan dari sumber kepada khalayak dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis, seperti surat kabar, film, radio, dan televisi.

II.5 Pengembangan Keterampilan Komunikasi
            Menurut Gibson, et.al. (1997: 446-451), meningkatkan komunikasi dalam organisasi bisa dilakukan dengan cara:
1.      Mengadakan tindak lanjut (following up)
Teknik ini dilakukan dengan menganggap bahwa manajer tidak dimengerti atau salah dimengerti dan sedapat mungkin manajer berusaha menentukan apakah maksud yang diinginkan itu benar-benar ditangkap.
2.      Mengatur arus informasi (regulating information flow)
Teknik ini meliputi pengaturan komunikasi untuk menjamin arus informasi yang optimal kepada manajer sehingga menyingkirkan hambatan “beban komunikasi yang terlalu berat”. Komunikasi diatur dari segi kualitas dan kuantitasnya.
3.      Memanfaatkan umpan balik (utilizing feedback)
Umpan balik memberi saluran bagi tanggapan penerima yang memungkinkan komunikator untuk menentukan apakah pesannya telah diterima dan apakah menghasilkan tanggapan yang dimaksud.
4.      Penghayatan (empathy)
Empati lebih berorientasi kepada penerima daripada komunikator. Empati mengharuskan komunikator menempatkan diri ke dalam diri penerima dengan maksud untuk mengetahui sebelumnya bagaimana pesan itu akan diterima.
5.      Pengulangan (repetition)
Menggunakan pengulangan atau ungkapan yang berlebih-lebihan di dalam komunikasi (khususnya yang bersifat teknis) menjamin bahwa jika satu bagian dari pesan itu tidak dimengerti, masih ada bagian lain yang membawa pesan yang sama.
6.      Mendorong saling mempercayai (encouraging mutual trust)
Tekanan waktu sering menghilangkan kemungkinan bahwa manajer dapat mengadakan tindak lanjut terhadap komunikasi dan mendorong umpan balik setiap kali mereka berkomunikasi. Dalam keadaan semacam itu, suasana saling mempercayai antara manajer dan bawahan dapat memudahkan komunikasi. Para manajer yang mengembangkan suasana saling mempercayai akan lebih mudah mengadakan tindak lanjut terhadap setiap komunikasi mereka tanpa kehilangan pengertian di antara para bawahan.
7.      Penetapan waktu secara efektif (effective timing)
Komunikasi yang efektif dapat dimudahkan dengan penetapan waktu yang tepat (proper timing) mengenai pengeluaran pengumuman penting.
8.      Menyederhanakan bahasa
Bahasa yang rumit merupakan hambatan utama bagi komunikasi yang efektif. Manajer harus menyandikan pesan-pesan mereka dalam kata-kata, imbauan, dan simbol yang mempunyai arti bagi penerima.
9.      Mendengarkan secara efektif
Untuk meningkatkan komunikasi, manajer harus berusaha untuk tidak hanya dimengerti, tetapi juga untuk mengerti. Ini berarti manajer harus mendengarkan dengan pengertian.
10.  Menggunakan selentingan (using the grapevine)
Selentingan merupakan jalur komunikasi informal yang penting yang terdapat dalam semua organisasi. Karena selentingan itu luwes dan biasanya merupakan komunikasi tatap muka, selentingan dapat menyampaikan informasi secara cepat.